Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Birrul Walidain

It's a birthday post.
Well, maybe it's such a disappointment (for me) that I can't write a better post but I want to write this just to make me remember in the future, how I was going thru all of this. There were many things happen in this past 22 years, for me, and this whole family. Speaking of this whole family, we've gone thru many things together, joy and sorrow. As I grew older I learn that I should whole-hearty accept what we had, imperfection, disappointment, and sure, pride.

And I learn a lot that I can't just escape from all the problems in our family, if there were. I need to solve it, no matter how painful it was, no matter how you just want to be ignorant, because it was about your beloved one. And I tried to slap my self that I should involve more in every single thing in our family. Well, even it was hard, I was crying more that usual (I'm not that crybaby tho before) but we grew stronger by time.We try to understand and again, try to accept that this is us. No matter how imperfect we were one to another, this is what we had, this is what Allah gave us, the best thing we got. 

To sum up, I am grateful to have them. To carry on, to strength one another that we will meet again later, in Allah's Jannah. 

PS: I miss you guys. 





Senin, 24 Maret 2014

Surat untuk Rumah




Halo rumah, apa kabar?
Masihkan sama seperti sebulan yang lalu, ketika terakhir kali aku di sana?
Aku rindu waktu-waktu sepertiga malam bersama keluargaku,
Aku rindu waktu-waktu berjamaah di setiap sholatku,
Aku rindu tawa yang hadir untuk setiap percakapan yang ada
Aku rindu untuk sekedar bercerita tentang teman-temanku, kegiatanku, dan cita-citaku.
Aku rindu setiap curhat colonganku ketika jogging pagi bersama Mama
Sebentar lagi aku pulang,
Tunggu aku ya :)

Buat anak kos, akan ada waktu di mana kamu bakal kangen, kangeeeen banget sama rumah. Bahasa gaulnya sih, homesick. Ada satu refleksi yang selalu bikin aku rutin sekedar sms "Lagi apa, Ma?" di tengah kuliahku, dan selalu berusaha memberikan suara termanisku di ujung telepon mereka, kedua orang tuaku, mau bagaimanapun  letihnya hari itu.

Pernah nggak ngebayangin, suatu saat kita akan kehilangan satu tempat yang selalu kita sebut rumah. Rumah yang dalam fisiknya ada, tapi orang-orang yang kamu cintai sudah meninggalkan kamu. Nggak ada lagi orang-orang itu, yang jadi motivasimu untuk selalu berusaha melakukan usaha-usah terbaikmu di tempatmu kuliah atau merantau. Kamu nggak tau untuk siapa kamu melakukan semua itu, selain untuk kepuasan dirimu sendiri. Salah satu sifat dasar manusia adalah ingin dihargai, bukan? Dan ketika kamu bisa meraih satu pencapaian tertinggi dalam hidupmu, kamu nggak tau untuk siapa kamu harus mempersembahkan itu semua, dan ketika kamu berharap ada seseorang yang memberikan pelukan hangat dan tetesan air mata haru atas pencapaianmu, tapi mereka sudah tidak ada.  Ketika satu saat kamu pulang ke rumah, dan berteriak dari luar, "Aku pulaaaang". Tidak ada jawaban, tidak ada yang menunggu lagi. Karena mereka sudah tidak ada.

Dan itulah yang dulu menyadarkanku, selagi keluargaku masih ada, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Menunaikan hak-hak mereka, hak untuk dibahagiakan. Selalu ada rasa hangat menyelimuti jika aku berhasil membuat mereka bangga atau sekedar menghapus rasa khawatir mereka. Selalu berusaha untuk pulang ketika memang tidak ada hal yang begitu penting di akhir pekan. Berbagi cerita dengan mereka, menceritakan hari-hariku di sini, dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam hidupku. Dari cerita paling nggak penting, sampai cerita yang sensitif, aku berusaha ceritakan. Menyampaikan dengan hati-hati setiap pendapatku dan keputusan-keputusan yang aku buat dan selalu meminta pendapat mereka. Memohon doa untuk setiap kegiatan yang aku jalani dan menyamakan frekuensi doa kami dengan ibadah-ibadah yang sama. 

Karena ketika pada akhirnya Allah harus memanggil mereka, aku nggak akan kesepian, karena aku selalu merasa mereka ada, karena aku selalu melibatkan mereka dalam hidupku.

source: http://www.pinterest.com/pin/214765475954363364/

Sabtu, 22 Juni 2013

The man that I always wanted to marry



Posting ini dipersembahkan untuk the man that I always wanted to marry, ayahku. Orang yang aku sayangi setelah ibuku, ibuku, dan ibuku. Dari dulu, orang bilang, ayahku itu tipe orang yang pendiam, bicara seperlunya saja. Tapi beliau selalu punya sisi menarik, yang selalu bisa aku banggakan ketika aku kecil. Aku selalu bangga ketika teman-temanku bertanya apa pekerjaan ayahku. Aku dulu menganggap ayahku sangat mulia karena selalu menolong orang sakit. Siap datang 24 jam untuk home visit. Aku masih ingat ketika aku kelas 2 SD, ayahku dengan jas putihnya menyempatkan datang ke sekolahku untuk mengantar penghapus pensilku yang ketinggalan, ditengah jadwal prakteknya yang padat. Hingga akhirnya saat pertengahan masa SMPku, ayahku memutuskan untuk berhenti dinas di salah satu rumah sakit swasta dan memilih hanya praktik di rumah. Katanya, selain kewalahan dengan jadwal di rumah serta agar lebih banyak waktu dengan kami di rumah. Dulu, aku selalu iri dengan teman-temanku yang punya ayah selalu di rumah dan menemani mereka belajar pada malam hari. Seiring waktu aku bisa memahami pekerjaan ayahku. 

Ayahku suka sekali musik rock, heavy metal, dan sejenisnya yang bikin pusing kepala. Dulu waktu aku kecil, aku bisa sing along lagu-lagu yang diputat ayahku di mobil ketika kami berkendara. Aku cuma tau evanesence dan linkin park. Selebihnya, scorpions, gun and roses, mr big, dan sejenisnya cukup jadi obat anti ngantuk untuk ayahku. Ayahku itu lucu, selalu ada cara untuk membuat kami tertawa dan menahan untuk tidak saling berdebat, dengan kelucuannya. Tapi kalau sudah saatnya aku dan adikku kelewat batas, ayahku bisa jadi sangat tegas bahkan beliau diam, kami sudah tidak berkutik. Aku selalu tersenyum untuk mengingat waktu-waktu itu. 


Ayahku selalu menjadi sahabatku ketika aku melewati masa aku beranjak remaja. Mulai dari teman ngobrol tentang F1, motogp, pertandingan tennis, hingga sepakbola. Bahkan beliau tau siapa pemain tennis yang aku suka dan klub sepakbola mana yang aku tunggu pertandingannya. Dulu aku dan ayahku pernah begitu gandrung dengan olahraga renang. Dari TK sampai SMP, seminggu paling tidak satu dua kali aku berenang. Kemudian ayahku pun kadang menemani. Ketika kami bosan, akhirnya aku dan ayahku ikut klub tennis. Seminggu sekali aku ikut ayahku latihan, sisanya aku ikut klub di sekolah lain. Kami cepat bosan, akhirnya menggantungkan raket dan aku mulai masuk SMA. Aku sudah mulai off dari semua kegiatan itu dan seluruh kegemaranku pada musik dan olahraga. Mungkin aku bosan. Ayahku pun hanya menyempatkan berolahraga pagi sekali atau dua kali seminggu. Kami tidak sedekat dulu, tapi kasih sayang beliau masih sama. Mungkin aku yang terlalu sibuk dengan teman-temanku. 


Beliau tidak pernah menuntutku untuk jadi yang terbaik, untuk belajar mati-matian. Kata beliau, yang penting aku bisa menjaga nama baik keluarga kami. Tapi selalu ada perasaan bersalah ketika aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Aku tidak pernah meminta ijin secara langsung pada beliau karena aku tau, hal-hal gila yang aku mau dan akan aku lakukan akan langsung beliau tolak. Aku selalu mulai merayu lewat ibuku, yang akhirnya ayahku pun luluh. Dulu saat SMA aku tidak sebegitu dekat dengan beliau, aku sadar, aku terlalu sibuk dengan duniaku hingga aku tidak tau apakah dia sedih, bahagia, bangga dengan aku yang sudah aku berikan. Aku sempat kecewa pada beliau karena suatu hal, di saat aku anggap beliau hampir sempurna. Selama masa SMA aku berusaha mengembalikan kepercayaanku pada beliau, sedikit demi sedikit. Hingga aku sempat memutuskan untuk menjadi seseorang yang bukan sepertinya, aku ingin jadi diplomat. Tapi lewat ibuku, aku tau beliau ingin aku sepertinya. Ibuku tau, aku sengaja memilih cita-cita yang lain karena aku sempat kecewa pada beliau. Aku yakin, restu orang tua adalah restu Allah. Begitulah akhirnya, aku di sini sekarang. 


Begitu aku meninggalkan rumah untuk mengejar cita-citaku, aku kembali dekat dengan beliau. Beliau tetap menjadi sahabatku bahkan kini calon teman sejawatku. Beliau kini pun jadi mentorku. Kadang ketika beliau meneleponku, beliau menanyakan ilmu apa yang telah aku dapatkan. Aku masih ingat ketika aku begitu bersemangat untuk baksos khitanku yang pertama, beliau meneleponku untuk menentirku proses khitan. Arteri mana yang tidak boleh terpotong, atau cara menghentikan perdarahan. Padahal aku baru mulai menjadi asisten dua. Atau ketika aku pulang, beliau menyempatkan mengenalkanku pada minor set atau obat-obat sederhana. Hingga kini, beliau tetap sama, tidak pernah menuntutku yang macam-macam. Beliau hanya ingin aku tidak meninggalkan kewajibanku beribadah. Aku mulai mengamati bahwa ayahku berusaha untuk lebih rajin dalam beribadah dan mengingat Allah. Yang sebelumnya hanya sholat tahajjud, sejak akhir masa SMAku, beliau kembali puasa sunah, dhuha, dan rutin sholat hajat setiap hari. Beliau tidak pernah bercerita bagaimana beliau beribadah atau aku harus begini atau begitu. Aku cukup mengamati beliau dan aku tau apa saja yang beliau lakukan. Katanya, aku sudah cukup dewasa untuk selalu diberi tau. Aku harus cukup peka untuk meniru mana yang benar dan mana yang salah. 
Beliau lah yang rajin untuk sms untuk sholat subuh, tahajjud, atau sekedar sahur. Lewat ayahku, aku belajar banyak. Ketika aku mengabari aku lulus suatu ujian atau pretest, beliau selalu mengingatkan untuk bersedekah atau mengucap Alhamdulillah. Ketika aku gagal, beliau tidak lelah untuk menyemangatiku karena ayahku tau, aku mudah down. Agar terus tetap istiqomah dalam beribadah walau dalam keadaan susah dan senang.  Aku selalu merasa terlindungi ketika ada ayahku ataupun hanya mendengar suaranya. Kalau aku kangen, aku cukup kembali sholat hajat karena sholat ini mengingatkanku pada beliau. Beliau lah yang menyarankan sholat sunah ini padaku. Bukan mendapatkan sesuatu dalam sholat ini tapi sekedar terus mengingat Allah dan mendoakan orang-orang yang kami sayangi. Akhir telepon kami selalu diakhiri pesan untuk membaca basmallah tiga kali setiap akan ujian atau berkegiatan. Dulu, sms beliau diakhiri ayat ali imran ke 173 atau ayat terakhir surat at taubah. 
Aku tau ayahku sudah berubah lebih baik, meski ayahku dulu sudah cukup menjadi teladan kami. 
Doaku, semoga Allah selalu melindungi ibuku, ayahku, dan adikku. Aku sayaaaang mereka, cukup lewat doa ini aku sampaikan rasa sayangku. Cita-citaku sederhana, semoga aku bisa membahagiakan mereka. Amin.