Tampilkan postingan dengan label mama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mama. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Makasih, Ma.

Terima kasih untuk terus bertahan selama ini dan akan terus bertahan dalam setiap cobaan yang hadir silih berganti dan memaknai arti setiap cobaan-cobaan sebagai bagian nikmat dari Allah.
Terima kasih untuk selalu mengalah, memprioritaskan segala kepentingan setiap bagian keluarga kami daripada diri Mama sendiri. 
Terima kasih untuk selalu menjadi alasan untuk mewujudkan setiap mimpi-mimpi yang terlalu fana.
Terima kasih untuk selalu menjadi pendengar yang baik untuk semua hal-hal sepele hingga hal-hal serius, Mama selalu ada.
Terima kasih Ma, untuk selalu di sampingku, menuntunku untuk sama-sama bertemu lagi di surga Allah.
Terima kasih untuk rasa cinta yang tidak akan lunas aku bayarkan bahkan ketika malaikat izrail menjemput.

Untuk waktu-waktu di masa depan yang masih Allah anugerahkan kepadaku, ijinkan aku untuk membahagiakanmu, Ma







Rabu, 17 Desember 2014

22:03

Bagaimana agar keimanan tidak naik turun?
1. Perbanyak muhasabah, ingat perbuatan diri kita di masa lalu. Lebih banyak kebaikan atau dosa?
2. Apakah amal yang sudah kita lakukan itu benar-benar ikhlas?
3. Perbanyak dzikir untuk mengingat mati, salah satunya Laa ilaaha illallahu. Sudahkah kita memiliki cukup bekal untuk mudik ke kampung akhirat?
4. Perbanyak doa untuk dijauhkan dari sikap dan sifat malas.





Selasa, 16 Desember 2014

Birrul Walidain

It's a birthday post.
Well, maybe it's such a disappointment (for me) that I can't write a better post but I want to write this just to make me remember in the future, how I was going thru all of this. There were many things happen in this past 22 years, for me, and this whole family. Speaking of this whole family, we've gone thru many things together, joy and sorrow. As I grew older I learn that I should whole-hearty accept what we had, imperfection, disappointment, and sure, pride.

And I learn a lot that I can't just escape from all the problems in our family, if there were. I need to solve it, no matter how painful it was, no matter how you just want to be ignorant, because it was about your beloved one. And I tried to slap my self that I should involve more in every single thing in our family. Well, even it was hard, I was crying more that usual (I'm not that crybaby tho before) but we grew stronger by time.We try to understand and again, try to accept that this is us. No matter how imperfect we were one to another, this is what we had, this is what Allah gave us, the best thing we got. 

To sum up, I am grateful to have them. To carry on, to strength one another that we will meet again later, in Allah's Jannah. 

PS: I miss you guys. 





Minggu, 20 April 2014

10.48

"Semua ada cobaannya, semua ada godaannya. Solusinya sederhana, niatkan segala aktivitasmu karena Allah. Karena dalam setiap lillahi ta'ala dan ingat bagaimana pada akhirnya kita akan mati, nggak ada niat jelek terselip, nggak ada pikiran buruk terlintas. Yakin karena Allah, percaya karena Allah, takut karena Allah".


Makasih ma :')

Senin, 24 Maret 2014

Surat untuk Rumah




Halo rumah, apa kabar?
Masihkan sama seperti sebulan yang lalu, ketika terakhir kali aku di sana?
Aku rindu waktu-waktu sepertiga malam bersama keluargaku,
Aku rindu waktu-waktu berjamaah di setiap sholatku,
Aku rindu tawa yang hadir untuk setiap percakapan yang ada
Aku rindu untuk sekedar bercerita tentang teman-temanku, kegiatanku, dan cita-citaku.
Aku rindu setiap curhat colonganku ketika jogging pagi bersama Mama
Sebentar lagi aku pulang,
Tunggu aku ya :)

Buat anak kos, akan ada waktu di mana kamu bakal kangen, kangeeeen banget sama rumah. Bahasa gaulnya sih, homesick. Ada satu refleksi yang selalu bikin aku rutin sekedar sms "Lagi apa, Ma?" di tengah kuliahku, dan selalu berusaha memberikan suara termanisku di ujung telepon mereka, kedua orang tuaku, mau bagaimanapun  letihnya hari itu.

Pernah nggak ngebayangin, suatu saat kita akan kehilangan satu tempat yang selalu kita sebut rumah. Rumah yang dalam fisiknya ada, tapi orang-orang yang kamu cintai sudah meninggalkan kamu. Nggak ada lagi orang-orang itu, yang jadi motivasimu untuk selalu berusaha melakukan usaha-usah terbaikmu di tempatmu kuliah atau merantau. Kamu nggak tau untuk siapa kamu melakukan semua itu, selain untuk kepuasan dirimu sendiri. Salah satu sifat dasar manusia adalah ingin dihargai, bukan? Dan ketika kamu bisa meraih satu pencapaian tertinggi dalam hidupmu, kamu nggak tau untuk siapa kamu harus mempersembahkan itu semua, dan ketika kamu berharap ada seseorang yang memberikan pelukan hangat dan tetesan air mata haru atas pencapaianmu, tapi mereka sudah tidak ada.  Ketika satu saat kamu pulang ke rumah, dan berteriak dari luar, "Aku pulaaaang". Tidak ada jawaban, tidak ada yang menunggu lagi. Karena mereka sudah tidak ada.

Dan itulah yang dulu menyadarkanku, selagi keluargaku masih ada, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Menunaikan hak-hak mereka, hak untuk dibahagiakan. Selalu ada rasa hangat menyelimuti jika aku berhasil membuat mereka bangga atau sekedar menghapus rasa khawatir mereka. Selalu berusaha untuk pulang ketika memang tidak ada hal yang begitu penting di akhir pekan. Berbagi cerita dengan mereka, menceritakan hari-hariku di sini, dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam hidupku. Dari cerita paling nggak penting, sampai cerita yang sensitif, aku berusaha ceritakan. Menyampaikan dengan hati-hati setiap pendapatku dan keputusan-keputusan yang aku buat dan selalu meminta pendapat mereka. Memohon doa untuk setiap kegiatan yang aku jalani dan menyamakan frekuensi doa kami dengan ibadah-ibadah yang sama. 

Karena ketika pada akhirnya Allah harus memanggil mereka, aku nggak akan kesepian, karena aku selalu merasa mereka ada, karena aku selalu melibatkan mereka dalam hidupku.

source: http://www.pinterest.com/pin/214765475954363364/

Senin, 17 Maret 2014

19:39

SMS sore ini,

"Ma, adek udah pulang bantara?"

"Udah kemaren minggu, pulang langsung full tidur"

"Adek cerita apa aja, Ma?"

"Ga dihukum tapi kelaperan. Bawa jajan banyak tapi dikubur di dalem tenda bawah tikar jadi aman. Kalo malem dimakan, pinter juga adek hehehe"

"Hahaha, lucu mah ;; "

Well, darah kreatif karena kepepet itu mengalir dalam darah keluarga kita dek. 
Harus bangga apa sedih

Kamis, 13 Maret 2014

20:16

Mama: "Mbak, adek mau bantara, boleh bawa apa aja?"
Aku : "Ya udah bawa jajan yang banyak tapi diumpetin Ma"
Mama: "Dulu Mbak kan bawa macem-macem ditaro mana aja?"
Aku: "Diplastikin sama tali pramuka, ditaro di sepatu yang satunya lagi hehehe"
Mama: "Katanya nanti dirazia, ini adek ga mau bawa apa-apa"
Aku: "Ya udah nggak usah bawa apa-apa. Adek kan cowok, udah gede juga. Nanti di sana juga masak. Belajar adaptasi sekali-kali"

Akhirnya dek Rafli akan merasakan bantara. Bukan mimpi buruk juga sih tapi bantara adalah satu momok besar di antara warga SMA 1. Horor push up ratusan kali, jajan yang berlebihan di sita, hingga giat malam yang diadakan dua kali. Bahkan aku masih bisa hidup sampai sekarang, walau melewati bantara yang katanya seseram itu. Semoga dek Rafli bisa dapet ilmu yang banyak di sana, semoga bantara ini menjadi satu persinggahan untuk belajar jadi pribadi yang lebih dewasa. Mbak selalu berdoa buat adek :)

Minggu, 23 Februari 2014

16.30

Telepon dari Mama sore ini sungguh pelipur kangen. Kangenku selalu terobati hanya mendengar cerita kegiatan Mama sehari-hari.
"Mbak, tadi Mama beli rok"
"Oh, sekarang Mama pake rok? Cieee bu hajah"
"Iya dong, sekarang Mama udah bisa ngisi tausyiah. Jadi beli rok"
"Subhanallah...." dan aku hanya tertawa. Yang ini pasti maksudnya tausyiah ke ibu-ibu pengajian di rumah yang cuma bincang-bincang pasca pengajian. Maksudnya biar bukan gosip semata, akhirnya Mama mencoba berbagi pengalaman.
"Iya Mbak, kemaren Bu Edi, Bu Inung, Bu Syam udah Mama kasih tausyiah"
"Hahaha, tausyiah tentang apa Ma? Pasti soal dilarang bergosip lagi"
"Iya itu pasti. Penyakit ibu-ibu sih. Terus tausyiah tentang sholat hajat, sholat tahajjud"
"Wiiiih, subhanallaaaaah" aku hanya bisa terpekik kagum.

Dulu Mama belum begini. Awal Mama berkerudung juga karena aku memutuskan memakainya awal masa SMA. Kemudian di saat aku mulai mengejar mimpiku di sini, Mama mulai merasa kesepian, akhirnya dengan saran dari beberapa kerabat, Mama mulai membentuk grup pengajian di rumah. Setiap liburan, aku selalu bertemu ibu-ibu yang begitu bersemangat belajar mengaji. Jangan dikira ngaji Al Qur'an semua bahkan beberapa ibu-ibu masih harus memulai dari Iqro 1. Kata Mama, nggak ada yang namanya terlambat dalam belajar. Asal kita masih dikasih waktu, kenapa nggak kita manfaatkan untuk hal yang baik? 

Satu yang selalu Mama ulang dari tiap perjumpaanku ketika pulang adalah 
"Jangan sekali-kali kamu mencela seseorang karena dia berbuat jelek/salah. Benci kesalahannya, bukan orangnya. Jangan pernah menjauhi mereka karena kesalahannya. Kita nggak tau, mungkin suatu saat Allah akan memberi ujian pada kita karena kita sudah pernah membenci orang lain, merasa kita paling benar, paling suci. Manusia itu tempatnya salah, makanya melalui orang-orang itu kita diingatkan untuk selalu memohon perlindungan Allah dari berbagai keburukan"
Ah, aku makin kangen Ma.