Tampilkan postingan dengan label mahasiswa kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa kedokteran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juni 2014

STOP BULLYING

www.ourfamilyworld.com
Salah satu topik yang selalu diangkat ketika tahun ajaran baru dimulai adalah mengenai bagaimana agar bullying bisa dihilangkan dari budaya di lingkungan sekolah. Secara tidak langung, kita bisa menjumpai pem-bully-an  di kehidupan kita sehari-hari, bahkan mungkin kita pernah melakukannya secara tidak sadar. Mungkin teman perempuan yang baru saja bercanda dengan kita dan kita memanggilnya dengan "Eh gendut!", dia ternyata sedang dalam diet atau bahkan menggunakan pil diet. Siapa yang tau? 

Atau mungkin, teman perempuan yang baru saja kita bilang "Eh kamu iteman deh..." ternyata dia sedang dalam proses perawatan wajah dan sudah mencoba berbagai macam jenis krim pemutih wajah. Siapa yang mengira bahwa teman perempuan yang kita panggil "Hahahaha iyalah kamu diphp-in, kamu lebih jelek sih..." ternyata dia menghabiskan berjam-jam di depan kaca untuk touch up, untuk berdandan. Jadi, cobalah untuk mengontrol apa yang kita katakan. Bahkan bercanda pun ada ukurannya. Secara tidak langsung, beberapa candaan kita ternyata bisa mem-bully mereka. So stop bullying bahkan ketika kita bermaksud bercanda. You need a joke to make you laugh? So laugh yourself, how pathetic your self, for dragging someone down only to make fun of them. 

pinterest.com

Dan yang terparah adalah ketika crack a joke, "Jadi orang kok cengeng banget sih!" kita nggak tau kalau ternyata dia baru kehilangan orang yang dia cintai, atau bahkan baru saja terkena musibah. Kita tidak akan pernah tau dan mungkin sebagian dari kita tidak ingin tau, karena kita tidak peduli. Think before you act. Jangan egois, walau kita tidak akan pernah merasakan menjadi orang lain. Tapi mungkin suatu saat kita akan mengalami hal yang sama dan menyesal.



Jumat, 25 April 2014

The 'study' must go on

Pukul 00.15
Lima jam menuju pretest anatomi terakhir di pendidikan pre-klinik ini.
Baru setengah materi yang dihafalkan.
Kehilangan semangat?
Sudah menyerah?


Bukan.
Terlalu banyak menunda.


Kalau lagi begini, selalu ingat bagaimana instruktur skill lab dulu pernah sampai nangis menyampaikan nasihatnya. Kata beliau,

"Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh. Kalian tau? Di luar sana masih banyak yang menginginkan untuk menempuh pendidikan ini. Masih banyak yang ingin jadi dokter. Tapi kalian sangat beruntung untuk bisa kuliah di sini. Makanya, belajar lah yang rajin. Setiap kalian malas belajar berarti kalian mendzolimi orang-orang di luar sana yang masih ingin jadi dokter"

...... dan sukses bikin semangat belajar lagi.

Senin, 24 Maret 2014

Ditampar dengan cinta

Jujur, aku bukan orang yang jago multitasking. Kalau ada dua hal yang harus dikejar untuk besok, salah satunya harus dikorbankan, atau paling nggak didelay dulu pekerjaan satunya. Seperti hari ini, Senin. Senin dan Kamis adalah jadwal rutin mahasiswa semester enam pendidikan dokter uns untuk terbimbing skill lab dan tutorial. 

Dulu, skill lab nggak ada yang namanya pre test, jadi mayoritas mahasiswa cuma asal nyalin/ copy paste buku rencana kerja persis seperti di buku manual skill lab. Tapi, sejak ada pre test, aku 'dipaksa' belajar semalam sebelumnya. Dan lebih beruntungnya lagi, materi skill lab hari ini cukup banyak, yaitu materi injeksi. Bisa dibayangkan, injeksi bukan cuma satu jenis. Injeksi ada yang intramuskuler, intradermal, subkutan, dan intravena. Karena kelompok yang minggu lalu bilang instrukturnya minta pretest, aku serius belajar skill lab dan menduakan diskusi tutorial. 

Dan bencana itu terjadi karena aku tidak sepenuhnya menyiapkan materi untuk diskusi pagi tadi. Aku hanya membaca sepintas karena biasanya aku masih bisa membaca lagi saat diskusi. Tutor untuk diskusi tutorial hari ini adalah salah satu senior paling disiplin di kampus, sebut saja beliau dr. M. Jelas, melihat nggak ada satupun di kelompok kami yang serius melakukan diskusi, terlihat beberapa stuck dengan tukar pendapat, beliau tidak mampu menutupi kekecewaannya. Memang, ini murni salah kami. Mungkin kalau orang yang apatis bakal sebel bin bete dimarah-marahin nggak jelas oleh beliau. Tapi ini tamparan penuh cinta, menurutku. Karena beliau begitu prihatin melihat bagaimana beberapa di antara kami yang belum serius untuk belajar dengan baik, belajar dengan penuh pemahaman, dan sungguh-sungguh.

Ini pesan beliau,
"Dek, kalian boleh benci dan sebel sama saya karena saya sudah marah-marah seperti ini. Silahkan. Tapi saya nggak mau kalian nantinya jadi dokter yang membahayakan pasien. Ilmu itu penting, ujung tombak dari profesi ini. Profesionalisme kita dinilai dari sebanyak apa ilmu yang kita miliki. Karena semua yang terjadi dalam standar pelayanan medis, bukan saja kehendak kita, tapi ada faktor Allah yang mengintervensi. Mungkin ada saatnya ketika pelayanan yang kita lakukan terjadi miss, kesalahan, atau resiko medis. Dengan ilmu yang kita miliki, asal kita bekerja sesuai standar operasional, asal kita paham dan tau bagaimana seharusnya prosedurnya, kita akan dengan mudah menjelaskan pada pasien bahwa kita sudah melakukan dengan benar. Kita tidak akan dengan mudah dijatuhkan oleh orang-orang yang punya kepentingan buruk, dan itulah bukti amanah kita pada profesi kita.
Dan dengan kalian ikhlas menerima setiap kritik membangun dari setiap perjalanan pendidikan ini, moral dan etika kalian akan terbentuk dengan baik. Menjadi dokter yang jujur dan bermoral. Cuma pinter nggak cukup dek, etika dan moral kalian harus dikedepankan juga. Saya harap Kamis depan kalian sungguh-sungguh mempersiapkan materi ini."

Makasih dok :)

Minggu, 23 Maret 2014

Syafakillah Ratna

Belum juga Hera keluar dari rumah sakita karena masih harus menunggu apakah harus melakukan bedah plastik pada kakinya, Ratna, teman satu tutorialku yang lain, harus masuk rumah sakit juga. Ternyata Ratna mengalami kecelakaan motor sepulang dari jaga klinik wisata hati, yang waktu itu adalah jadwal jagaku dan Reyhana. Ada beberapa hal yang membuatku menyesal. Pertama, meninggalkan Ratna dan berangkat lebih dulu karena harus sudah ada di klinik jam setengah empat. Yang kedua, mengijinkannya ikut berjaga sore itu, padahal bukan jadwalnya. Coba kalau dia akhirnya bawa mobil atau coba kalau dia nggak dateng. Mungkin semua nggak bakal ada kejadian itu. Tapi, takdir Allah siapa yang tau? Ratna udah cukup sangat membantu sore itu, ketika nggak ada mas mbak koas yang dateng, Ratna juga ikut anamnesis dan meresepkan obat, merapikan status pasien, hingga mengarahkan pengaturan obat. Padahal, Ratna baru selesai pengarahan asisten skill lab yang baru. Aku belum sempat jengukin Ratna, insya Allah besok, sepulang kuliah, semoga aku bisa langsung meluncur ke RS Kustati. Semoga Allah membalas amal baik Ratna sore itu dan segera memberikan kesembuhan bagi Ratna. Syafakillah, Ratna.... 

Rabu, 19 Maret 2014

Diabetes Mellitus dan Hipertensi

Bulan ini adalah bulannya blok geriatri. Skenario pertama membahas tentang bagaimana pasien jatuh dan tatalaksananya. Tapi, aku lebih tertarik untuk mencari patofisiologi gejala lain pada pasien tersebut, yaitu adanya gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL dan hipertensi. Selama ini, sering aku temui pasien geriatri (pasien dengan usia lebih dari 60 tahun dan memiliki lebih dari dua penyakit kronis) mengidap diabetes mellitus sekaligus hipertensi, kadang disertai nyeri lutut/osteoartritis. Kemudian setelah pertemuan pertama diskusi tutorial berakhir aku masih merasa kedua penyakit ini disebabkan oleh hal yang berbeda, terpisah. 

Tapi malam ini, setelah aku selesai makan dengan Hana, ada hal lain yang menggelitik. Bukannya diabetes mellitus dan hipertensi itu ada hubungannya ya? Complicated atau in relationship? Bukan, bukan. Ini juga bukan pertanyaan seperti anak ayam dan telur, duluan mana? Ini satu mekanisme yang jelas. Bahwa diabetes mellitus lah yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi. Jadi, tersangkanya di sini, diabetes mellitus. Secara sederhana, setiap asupan glukosa selalu mengalami proses pemecahan molekul oleh hormon insulin, agar dapat didistribusikan dengan baik keseluruh tubuh atau digunakan sebagai sumber energi. Tapi masalahnya, hormon insulin itu terbatas sehingga tidak semua glukosa bisa diproses oleh hormon insulin, tidak semua glukosa berpasangan dengan hormon insulin. Keadaan ini disebut sebagai resistensi insulin di mana insulin tidak mampu menstabilkan kadar glukosa dalam tubuh. Bisa dibilang, insulin gagal untuk memenuhi harapan tubuh, harapan palsu ciiin. Nah, karena tidak berpasangan dengan insulin, jadilah glukosa ini jomblo. Glukosa yang jomblo inilah yang berbahaya. Ketika glukosa yang jomblo ini naik jumlahnya, atau membentuk persekutuan hiperglikemia (kadar glukosa berlebih dalam tubuh).
Hiperglikemia inilah yang secara langsung menyebabkan naiknya tekanan darah pada pasien dengan diabetes mellitus. 


Dikutip dari (Indriyati, 2003) Pada penderita diabetes melitus terjadi perubahan fungsi sel endotel
dan kegagalan relaksasi vaskular. Hiperglikemia mengaktifkan protein kinase C di endotel yang selanjutnya merangsang produksi prostaglandin vasokonstriktor dari endotel.(20) Kadar endotelin(bersifat vasokonstriktor) dan angiotensin converting enzyme (ACE) yang berperan dalam pembentukan angiotensin II (vasokonstriktor) juga meningkat. Pada diabetes melitus juga terjadi kegagalan peningkatan cerebral blood flow sebagai respons terhadap rangsangan vasodilator, yang disebabkan neuropati otonom diabetik dan atau kelainan endotel yang mengakibatkan menurunnya faktor vasodilator endotelial seperti nitric oxide.

Hiperglikemia mengubah produksi matriks sel endotel, dan menyebabkan penebalan membran
basal. Kadar gula yang tinggi meningkatkan produksi kolagen IV endotel dan fibronektin serta meningkatkan aktivitas enzim yang terlibat dalam sintesis kolagen. Toksisitas glukosa juga memperlambat replikasi dan mempercepat kematian sel endotel. Kelainan metabolik lain yang dapat terjadi pada diabetes selain hiperglikemia adalah hipertrigliseridemia, peningkatan reaksi oksidasi dan glikosilasi, sehingga akan memperburuk kerusakan sel endotel.

Apa itu tekanan darah? Tekanan darah ditentukan dari hasil pengukuran tensi meter. Kita ibaratkan pembuluh darah adalah selang, dan darah adalah airnya. Tekanan darah yang normal diibaratkan air yang mengalir lancar pada selang, di mana air tersebut memberikan tekanan ke segala arah dinding selang. Itulah yang kita ukur. Daya tekan/dorong air itu. Air dengan tekanan/dorongan yang baik/lancar, menghasilkan aliran lancar, karena terus berjalan. Sama halnya dengan darah. Darah yang memiliki daya tekan/dorong yang baik, bisa mengalirkan nutrisi dan oksigen dengan baik ke seluruh bagian tubuh. Darah yang memiliki daya dorong/tekanan yang rendah, berarti ada gangguan dalam pengaliran darah itu sendiri ke bagian tubuh yang lain, apalagi bagian tubuh atas/yang melawan gravitasi, perlu daya dorong lebih besar untuk menyuplai nutrisi dan oksigen ke sana. Maka itu penting untuk menjaga tekanan darah agar selalu dalam batas normal. Tekanan darah yang tinggi menunjukkan adanya sumbatan/gangguan. Gangguan itu bisa berupa selang/pembuluh darah yang menyempit, aliran darah yang terlalu kental atau ada sumbatan dalam yang menyumbat aliran darah. Dalam kasus diabetes mellitus, terjadi penurunan elastisitas pembuluh darah akibat mediator-mediator inflamasi dan kerusaskan endotel serta penumpukan fatty streak (mediator inflamasi yang menumpuk pada pembuluh darah sehingga mempersempit ruang gerak aliran darah).  Sehingga, dengan aliran darah yang masih sama seperti dulu, tapi selang yang mengecil, tentu meningkatkan tekanan itu sendiri, bukan? Apa bahayanya? Ketika pembuluh darah makin lama makin sempit akibat makin menumpuknya timbunan kerusakan akibat hiperglikemia, dengan aliran darah yang masih sama, pembuluh darah tidak bisa mengkompensasi tekanan darah yang tinggi, sehingga suatu saat pembuluh darah akan pecah. Ini yang disebut stroke hemorragik. 

Terapi yang dianjurkan pertama kali untuk hipertensi kasus ini adalah dengan ACE inhibitor. Obat hipertensi bersifat renoprotektif, seperti penghambat ACE dan ARB akan menurunkan tekanan darah serta penurunkan ekskresi protein. Keadaan ini  akan menurunkan resiko terjadinya gagal ginjal terminal, dan memperbaiki harapan hidup.
Penghambat ACE dan ARB menurunkan tekanan darah melalui mekanisme tidak terjadinya vasokontriksi. Penghambat ACE menghambat  pembentukan Angiotensin II yang bersifat vasokontriktor, sedangkan ARB  bertindak sebagai antagonis reseptor AT1. Perbedaannya terletak pada pembentukan bradikin yang tetap berlangsung pada penghambat ACE.

Terus diabetes mellitusnya diapain? Terapi utama yang dianjurkan adalah perubahan gaya hidup. Kemudian penggunaan obat Metformin namun dibarengi dengan obat yang gastroprotektif karena menyebabkan mual dan muntah. Metformin bekerja dengan meningkatkan sensitivitas insulin, tanpa menstimulasi produksi insulin. Metfomin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transportasi glukosa ke dalah sel otot.

Ketika terdapat kontraindikasi pada penggunaan metformin, bisa diganti dengan sulfonilurea (glibenklamide) yang berfungsi menstimulasi produksi insulin dari sel beta pakreas yang masih sehat sehingga harus diwaspadai terjadinya hipoglikemia pada penggunaan glibenklamide. 

Selasa, 18 Maret 2014

Dari kamar Cendana 6A pagi ini

Syafakillah untuk Hera, teman tutorialku yang sedang mendapat musibah. Insya Allah dengan sakitnya Hera, terhapus pula dosa-dosa Hera :) dan aku kembali teringat,

"Ironisnya, doa-doa paling tulus yang dipanjatkan hadir di rumah sakit, bukan tempat-tempat ibadah. Seharusnya kita tidak berdoa hanya di saat membutuhkan, tapi setiap saat, untuk penjagaan kita, untuk perlindungan kita"



A soon to be general practician reminder

Ibnu Taimiyyah mengatakan "Yang merusak masyarakat adalah orang yang setengah ahli dalam ilmu kalam, setengah pakar ilmu fikih, setengah pakar ilmu nahwu dan setengah dokter. Setengah ahli dalam ilmu kalam itu hanya merusak agama. Setengah pakar dalam ilmu fikih itu merusak tatanan masyarakat dan berani menghalalkan yang haram. Setengah pakar dalam ilmu nahwu itu merusak bahasa arab dengan kesalahan harokatnya. Setengah dokter itu merusak jasmani dan membunuh pasien." (ar Badd 'al Bakri 2/731)

Minggu, 16 Maret 2014

Predisposisi: Tuli Sensorineural

source: pontianak.tribunnews.com
Selalu mempertanyakan, ada nggak sih yang pernah bikin skripsi untuk mengetahui pengaruh pawai motor terhadap tingkat elektabilitas pemilu? Cuma bisa geleng-geleng kepala setiap mau diadakan gelaran pesta demokrasi ini. Wajar, di daerah belakang kampus UNS, yang notabene jalannya sempit, kecil, daerah padat penduduk, dengan teganya mas-mas (atau ada mbak-mbak juga) ngelakuin pawai motor dengan mengatasnamakan partai yang mereka dukung. Menurutku, ini bukannya merebut simpati masyarakat lagi, bikin antipati, Mas.

source: wisnuekos.blogspot.com

Masnya perlu dikasih tau? Kalo paparan suara keras di atas ambang batas pendengaran manusia, bisa bikin tuli? Tuli nggak cuma kongenital (didapat dari lahir) aja Mas-mas, tapi juga paparan berulang/trauma koklea akibat suara keras. Oke, ini lebay. Karena suara yang bisa bikin tuli sensorineural adalah yang ada direntang 3000-6000 Hz. Tapi pernah coba memahami perasaan orang lain dulu nggak sih wahai mas-mas yang pawai motor? Nggak kasian apa sama ibu-ibu lansia (seperti ibu kosku) yang dengan mudahnya bisa stres karena lingkungan yang tidak nyaman, dengan mudahnya stres itu bisa jadi aura (pemicu) vertigo, atau bahkan bisa naikin tensi, tensi naik bisa bikin sirkulasi darah jadi nggak normal, terus tambah naik nanti pembuluh darahnya pecah, pecah jadi stroke. Oke, kedua kalinya aku lebay. 

Well, mungkin pemaparan di atas cukup nggak egois. Tapi pernah coba untuk memahami juga nggak sih Mas-mas? Seberapa signifikan sih pawai motor dalam meningkatkan tingkat elektabilitas? Kenapa nggak kampanye lewat media sosial, talkshow di kampus, atau bahkan merebut simpati masyarakat lewat baksos/khitan masal yang pernah dilakukan satu partai yang bekerja sama dengan lembaga kesehatan yang aku ikuti. Tentu masyarakat lebih simpatik. Atau pun mencoba menggalang dukungan dari mahasiswa dengan pemaparan visi dan misi yang logis dan memang membawa kepentingan mahasiswa itu sendiri. Daripada buang-buang bensin, nambah polusi, nggak cuma polusi udara, polusi suara juga :(

Bahkan sampai saat ini aku belum berani keluar kos lho Mas-mas yang masih pawai motor dari tiga jam yang lalu. Bikin insecure :(  yang pawai aja udah bikin insecure, apalagi calon legislatifnya?

Ngomong-ngomong soal kampanye dan pemilu, aku bukan orang yang tau banyak tentang politik, aktivis pun bukan. Tapi apa iya mau terus-terusan apatis masalah yang terkait hidupku juga? Apa jadinya kalau nantinya yang jadi pemimpin di negeri ini bukan seseorang yang nggak mengayomi aspirasiku? Nggak bikin aku merasa tentram hidup di negara ini? Apalagi yang ideologinya sangat bertentangan denganku. I won't make it happen, guys. Pesan moral di sini: Jangan Golput!


Status:
"Akhirnya hujan. Ternyata Allah bersama orang-orang yang kena imbas polusi udara kampanye pawai motor"

Sabtu, 15 Maret 2014

Terima Kasih dan Sampai Jumpa Lagi, Daarul Qur'an

Satu hal yang membuat 2013 sangat berkesan adalah kesempatan untuk menjadi penanggung jawab  (PJ) di klinik PPPA Daarul Qur'an Colomadu. Klinik ini adalah salah satu dari tiga klinik pengobatan gratis hasil kerja sama dengan LKMI Solo. Tugasnya sederhana, hanya mengurusi administrasi obat, mengatur jadwal yang jaga, dan mengingatkan koas yang berjaga. Tapi pada akhirnya kita juga terlibat dalam urusan obat-mengobati pasien. Klinik ini adalah klinik paling jauh dari tiga klinik pengobatan gratis LKMI (BP Fatimah ada di daerah Singosaren dan Klinik Wisata Hati ada di daerah belakang SGM). Awalnya, PJ klinik ini cuma Aku dan Bayu. Namun karena awalnya aku sempat menolak, Amalia ikut membantu kami berdua. Tapi akhirnya kami bertiga bergantian setiap tiga minggu sekali di Hari Sabtu untuk menemani teman-teman yang berjaga di klinik ini. Banyak hal yang aku dapatkan dari klinik ini. Ada waktu-waktu diawal jaga, ketika nggak ada pasien santri sama sekali, hingga rekor minggu lalu, dua puluh pasien santri karena outbreak dermatitis kontak alergi et causa ulat. 

Yang paling aku syukuri adalah kesempatan untuk ikut sholat Maghrib berjamaah dengan para penghafal qur'an. Lalu, ketika blok Kulit, aku berjaga ditemani seorang Mbak Koas yang sedang stase kulit. Subhanallah, ilmunya pasti beda sama mbak mas koas yang lagi di stase yang berbeda. 

Dan akhirnya, ketika hari ini, pergantian PJ  ke angkatan 2012, koas kebetulan nggak bisa jaga hari ini. Akhirnya aku dan Bayu, dengan kemampuan seadanya, anamnesis dan meresepkan obat ke adik-adik santri. Doaku, semoga adik-adik ini bisa sembuh dengan ilmu kami yang masih belum sempurna.

"DQ berkesan banget sumpah" kata Bayu.

Gimana nggak berkesan? Bayu harus mengalami cinlok dengan satu PJ yang lain (sudah disebutkan namanya di atas hahaha). Cinlok itu kebetulan tumbuh ketika aku tidak ada di antara mereka berdua, karena bulan Ramadhan aku full di rumah sehingga hanya mereka berdua yang bergantian jaga, yang rumahnya lebih dekat dengan DQ. Aku banyak belajar dari kalian berdua juga, teman-temanku. Bagaimana amanah harus ditunaikan dengan baik.

DQ juga berkesan untukku. Karena DQ, aku bisa memberikan penolakan halus untuk setiap ajakan hedon di malam minggu dari teman-teman. DQ juga membuat malam mingguku bermanfaat. Lewat DQ, aku belajar lebih banyak tentang kriteria diagnosis dan terapi penyakit. 

Tentu aku merasakan post power syndrome, meski aku mencoba mengelak. Aku menyesal dulu pernah melewati masa-masa males jaga. Sekarang, bagaimana akan kangen jaga di DQ. Aku 'naik kelas' menjadi PJ untuk klinik yang dimiliki yayasan Yusuf Masur lainnya, Klinik Wisata Hati, bersama Ratna dan Halid. Tentu klinik ini berbeda karena pasiennya pun berbeda, kebanyakan lansia. Tapi yang pasti, semoga kadar kebermanfaatnya sama besar, seperti di DQ dulu.

Terima kasih DQ, sampai jumpa lagi tahun depan, dengan kesempatan sebagai Mbak Koas di sana :)

Minggu, 09 Maret 2014

Cerita Skripsi #4

And the story keep going on, so bear with me please.
Dan hari ini sedang review belajar reaksi hipersensitivitas dan imunologi, tiba-tiba di "tampar" seorang teman,

"San, gimana skripsi?"

"Alhamdulillah judul udah, lagi translate jurnal"

"Aku tinggal tipus sih terus langsung ujian proposal deh"

" B3JRJP0KEDKMBKS%(#& KOK BISA DIIIIIV KEMAREN KAN BARU VALIDASI JUDUL"

"Makanya, punya taktik lah. Jangan persulit. Kerja cerdas"

"Maksudnya?"

"Jangan dibikin ribet, sederhanain penelitiannya, bikin rancangannya. Mana emailmu? Nanti aku email contoh proposal"

"YOU SAVE MY LIFE DIIIIIV"


Akhirnya, pulang simposium yang awalnya mau langsung belajar tutorial, jadi turun prioritasnya. Mendadak langsung buka-buka jurnal lagi dan bikin rancangan pikir penelitian. Ada untungnya punya temen terlalu rajin dan banyak kepo :""""

Sabtu, 08 Maret 2014

Hari ini, tahun depan

Bismillah,
Di waktu dhuha ini aku berdoa,
Semoga hari ini, tahun depan, gelar Sarjana Kedokteran itu sudah tersemat manis di belakang namaku. Aaamiiin.

Minggu, 23 Februari 2014

Pacitan




22 Februari 2014
Sepanjang perjalanan Solo-Pacitan,

        Hari ini adalah salah satu hari spesial untuk angkatan kami, AXON, selama tiga tahun. AXON adalah singkatan dari Alliance of Extraordinary and Outstanding Generation. Mengapa kami memilih nama AXON (akson)? Berfilosofikan dari bagian terpanjang sel syaraf yang berfungsi sebagai penghantar impuls dan sebagai jalan yang akan dilewati neurotransmitter, akson (Axon) menggambarkan angkatan yang kreatif, inovatif dan sebagai calon dokter akan menyediakan jalan menuju penyelesaian masalah pasien-pasiennya. Akson memiliki panjang yang bervariasi, ada yang sangat mikroskopik yang hanya memiliki panjang 1 mm dan ada pula yang bisa mencapai lebih dari 1 meter. Akson terpanjang adalah akson skiatik yang bermula dari dasar tulang belakang hingga ke ujung kaki. Dari hal ini dapat kita lihat bahwa akson tidak hanya menjangkau tempat yang dekat-dekat saja tetapi juga mampu menjangkau tempat yang jauh. Sebagai calon dokter kami berharap agar tidak hanya menguasai hal-hal yang berada di dekat kami saja tetapi kami juga harus mampu menjangkau hal-hal atau pengetahuan yang lebih luas. Akson merupakan bagian terpenting dari sebuah sel saraf dan hanya ada satu di setiap sel saraf. Itu menggambarkan bahwa keberadaan kami akan menjadi sangat penting. Axon juga merupakan angkatan yang unik yang hanya ada satu di dunia. Akson menerima impuls dari dendrit yang berjumlah banyak dan bermacam-macam. Hal ini menunjukkan bahwa angkatan kami terdiri dari bermacam-macam orang yang berasal dari berbagai tempat yang akhirnya bersatu menjadi akson.

         Mengapa spesial? Karena selama ini, hari-hari yang kami lalui bersama kebanyakan berbau akademik. Kuliah, praktikum, asistensian, tentiran, hingga ujian. Tapi satu dua kali kami berusaha mengaplikasikan ilmu yang kami dapat melalui baksos-baksos di daerah Solo dan sekitarnya. Salah satunya adalah baksos angkatan. Baksos Angkatan kami adalah hasil kolaborasi dengan angkatan 2013 dengan nama Baksos Scaleni "Sekali dan tak terganti". Kenapa nama baksosnya Scaleni? Karena angkatan 2013 disambut dengan orientasi mahasiswa baru bertajuk COSTA. COSTA secara sederhana kami sebut tulang rusuk. SCALENI adalah otot yang menggantung costa agar tetap berdiri melindungi jantung. Diharapkan melalui baksos itu, angkatan 2013 dapat lebih menjalin persaudaraan dan mendapatkan lebih banyak ilmu yang diinisiasi lewat COSTA, melindungi janji setia kami, janji hipokrates. Sebuah baksos yang benar-benar sekali dan tak terganti karena merupakan pengalaman pertamaku live in di rumah warga bersama keenam adik-adik 2013, sungguh pengalaman yang tak terganti.

        Acara hari ini diawali dengan acara simbolis peresmian mini perpustakan dan lab komputer di MIM Suruh Kalang, Karanganyar. Mini perpus dan lab komputer itu terwujud atas dana yang masih tersisa dari dana anggaran baksos Scaleni. Selain peresmian, kami juga melakukan penyuluhan sikat gigi dan cuci tangan pada anak-anak SD Kelas 1 di MIM tersebut. Menyikat gigi dan mencuci tangan tentu hal-hal yang simpel yang mungkin diremehkan semua orang. Buat apa diajari? Toh cuma gitu aja. Eh, jangan salah. Menyikat gigi yang tidak benar akan meninggalkan kuman-kuman dan sisa makanan pada gigi, menyikat gigi tidak teratur pada waktu yang tepat juga akan sia-sia. Demikian juga dengan mencuci tangan, mencuci tangan dengan lima/tujuh langkah yang benar akan sukses membunuh kuman penyebab penyakit.



"Siapa mau jadi dokter?"

        Akhirnya kami meluncur ke Pacitan. Akhirnya ada satu hari di mana kami bisa lepas dari memikirkan diagnosis banding penyakit, mengapalkan obat, dan memahami patogenesis penyakit. Sayang, kami pergi dengan anggota yang tidak lengkap, hanya sekitar separuh dari populasi AXON yang sanggup hadir hari ini. Tapi tak apa, tidak mengurangi makna kebersamaan hari ini.

        Hujan menemani perjalanan kami ke Pacitan. Namun, Allah berkehendak lain. Sesampainya di Goa Gong, matahari akhirnya menampakkan diri. Mungkin bukan jamannya lagi wisata ke Goa, apalagi kebanyakan teman-teman terbiasa menghabiskan weekend di Mall atau sekedar nongkrong di cafe unik di tengah Solo. Tapi, sepanjang di dalam Goa kami sibuk menikmati kebersamaan ini, bahkan di sebuat stalakmit/stalaktit yang katanya bisa berbunyi seperti Gong, teman-teman laki-laki kami berkelakar " Coba dipukul, buktiin kelaki-lakian mu to" Well, no comment hahaha.

Begitu keluar Goa,
"Mbak, mas oleh-oleh mbak mas..." sapa salah satu penjual yang kami lewati
"Itu lho Ber, ditawari" kata salah seorang teman pada Bery
"Aku to bakal beliin kaos jeketi buat Vandi. Pokoknya kalo ada langsung aku beli" sahut Bery.
selang beberapa menit kemudian....
"Tuuuh Ber, ada kaos jeketi pokoknya beliin, beliin buat Vandi" 
Ini cukup kocak, menurutku. Mengingat kaos dengan tulisan jkt48 itu tersembunyi di etalase toko tapi mata jeli teman-teman yang lain langsung menangkap tulisan tersebut dan menagih janji Bery. Asal tau, Vandi, sang ketua pecinta alam adalah member official dari jkt48. Kata teman-teman, biar tampang security tapi hati hello kitty. 

          Kemudian, destinasi kedua dan terakhir hari ini tak lain dan tak bukan adalah pantai. Pacitan sebagai daerah yang terletak di pesisir selatan Jawa Timur ternyata menyimpan banyak pantai yang indah di antara tebing-tebing yang curam. Yang beruntung kami kunjungi adalah Pantai TelengRia. 
Ketika mulai memasuki kawasan pantai, Andika, sang ketua panitia baksos berkata, "Nah ini pantainya teman-teman, bagus kaaaaan" 
"Elaaah mekso ndiiik, meksooooo" ._. 


            Sampai di TelengRia, teman-temanku yang tidak sadar usia ini beranjak menyerbu pantai bak anak kecil yang baru sekali ke pantai. Awalnya ikut bergabung menikmati sapaan buih-buih air di tepi pantai tapi kemudian karena hemat baju hari ini, akhirnya aku tersisih dan bergabung dengan sekumpulan orang yang hemat baju tempat yang lebih kering untuk menjaga tas teman-teman. 

        Aku, Kiky, dan Hernowo berakhir dengan mengamati kegiatan teman-teman yang lain. Mulai dari sekumpulan teman-teman laki-laki yang bermain bola, ada yang pacaran dengan membangun istana pasir, ada yang berusaha membuat foto loncat dengan pose terbaik, dan ada juga yang begitu excited bermain dengan air.

          Mungkin pantai ini bukan pantai yang paling indah dari pantai-pantai yang pernah aku kunjungi. Tapi di pantai ini, aku kembali merasakan berada di tengah-tengah keluarga. Walau memang singkat, tapi tujuan diadakannya acara ini tentu ingin mempererat tali silaturahmi di antara kami, paling tidak kita mendapatkan momen kebersamaan kami. 
Momen yang akan selalu diingat nanti, bahwa kami pernah punya sesuatu yang manis untuk diingat. Bukan hanya momen ujian, tutorial, praktikum, dan kuliah saja. 
Momen yang akan selalu diingat nanti, bahwa bahagia itu sederhana. Terima kasih Pacitan!

Rabu, 19 Februari 2014

Jika istrimu seorang dokter (dari kurniawangunadi.tumblr.com)

Mungkin entri ini agak subjektif, namun bisa memberikan sedikit gambaran :)
Original entry: http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/64847159513/ceritajika-1-jika-istrimu-seorang-dokter


Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia kesehatan, maka dia telahmenyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang diaditinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri.

Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk orang lain daripada untukmu sebagai suaminya atau anak-anak. Pikiran dan tenaganya akan tercurah kepada orang-orang asing yang mungkin tidak akan mengingatnya dalam setiap doa, tidak sepertimu atau orang tuanya.

Kamu tahu? Dia akan lebih sering di rumah sakit daripada di rumahmu sendiri. Itu bukan karena dia menyukai rumah sakit. Rumahmu tetaplah tempat yang membayang di pelupuk matanya setiap detik dia di rumah sakit. Karena rumah sakit adalah tempat yang penuh tekanan. Jika kamu bukan tenaga kesehatan, maka tidak akan terbayangkan seperti apa rasanya hidup di sana. Jangan heran jika seringkali mereka menyebutnya “rimba raya”.

Maka ketika dia terlihat dingin dan lelah, peluklah. Peluk sampai ke dalam lubuk hatinya. Karena kamu mungkin tidak tahu bahwa pasiennya baru saja meninggal dunia, atau seniornya baru saja memarahi dan menghukumnya, atau ada pasien yang menyalahkan terapi yang dia berikan, atau rekan kerjanya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Dengarkan ceritanya dengan sabar. Jangan lupa ceritakan juga harimu padanya. Tawarkanlah untuk berdiskusi, karena kamu lebih dia percaya daripada siapapun di dunia.

Jika kamu menikahi seorang dokter, jangan memiliki persepsi yang sama seperti kebanyakan orang, bahwa dokter pasti kaya secara materi. Sama seperti yang lain, dia akan mendaki dari bawah. Bahkan jam kerjanya di awal pendakian itu lebih banyak daripada profesi lain dengan imbalan yang pas-pasan. Tetaplah di sisinya, sama seperti dia yang selalu berusaha ada di sisimu.

Tetapi, sebanyak apapun pasiennya, kamu dan kaluarga tetap menjadi prioritasnya. Dia akan menganggap dirinya sendiri sebagai dokter pribadimu. Dia akan sangat kritis terhadap apapun mengenai dirimu yang terkait dengan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Mungkin akan terdengar bawel, tapi itu adalah bentuk perhatiannya.

Seorang dokter akan sangat perhatian kepada orang lain, tetapi tidak kepada dirinya sendiri. Maka tidak jarang kamu mendengar ironi tentang seorang dokter meninggal dunia karena penyakit yang sebetulnya sering ditanganinya. Dia akan mendengarkan keluhan orang lain tapi mengabaikan keluhannya sendiri. Siklus makannya akan berantakan, begitu juga dengan waktu tidur yang jumlahnya dalam jam bisa dihitung dengan satu tangan saja. Maka jadilah satu-satunya yang memperhatikan dia. Ingatkan untuk makan dan shalat, atau jika tidak sama sibuknya, bawakan makanan saat dia jaga malam. Kehadiranmu akan lebih menyenangkannya daripada makanan itu sendiri.

Jika istrimu seorang dokter, siapkah kau membaginya dengan orang lain?


Malang, 20 Oktober 2013

submitted :

Nydya Parahita

Fakultas Kedokteran - Universitas Brawijaya

Malang

CeritaJIKA project : click here

Jumat, 27 Desember 2013

Belajar dari teman #2

"Aku copas ya entri mu. Maaf baru bilang :("
"Nyante ajaaa, makasih malah nambah amal. Hehehe"
"San, cara nulis yang baik gimana sih? Aku takut terkesan menggurui"
"Ya nggak apa-apa tik, yang penting niat kita"
"Emang niat bisa meleburkan suudzon? Apa bisa menggugurkan prasangka orang lain?"
"Ya mau gimana lagi...."
"Berarti sistemnya yang harus diperbaiki"
"Iya sih, tapi aku lebih ke introspeksi buat diriku sendiri dan teman-teman deket aja tik"
"Kenapa nggak sekalian aja berbuat sesuatu yang bermanfaat buat orang lain juga, aku merasa belum ada amalan spesial yang aku punya San yang bisa membantuku ke Jannah-Nya. Aku nggak bisa jawab ketika ditanya apa yang spesial dariku :("
"Aku nggak tau, ngerasa berantakan aja. Mungkin imanku lagi turun. Hasil akademik nggak sesuai ekspektasiku"
"Aku juga trauma nih mencoba"
"Hahaha jangan trauma. Menyesal lho kalo nggak pernah nyoba sama sekali. Gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi. Jangan menyerah. Saat gagal bakal kasih tau kita apa yang harus diperbaiki dari diri kita..."

It is always nice to talk with you,Tik. You're always inspiring me, most of the time. 
Semoga ukhuwah ini membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. 

Selasa, 24 Desember 2013

Belajar dari teman

Tweet seorang teman : "Jangan terlalu lama tenggelam" - NAS
Mungkin lengkapnya seperti ini: 


Jangan terlalu lama tenggelam dalam keterpurukan, Jatuh, bangkit lagi. Gagal, coba lagi, Never give up. Sampai Allah bilang saatnya pulang.

Nggak mungkin hidup itu isinya sukses dan semua harapan tercapai. Yang sudah berusaha dan berdoa maksimal pun kadang gagal, apalagi yang berusahanya setengah-setengah dan berdoanya cuma kalau butuh? Sedang diingatkan.

Rabu, 18 Desember 2013

Aku jatuh cinta




Aku lupa bagaimana akhirnya aku putuskan untuk menempuh pendidikan dokter ini, hingga saat ini aku mencoba meyakinkan bahwa semua ini mungkin sudah ditakdirkan oleh Allah. Semua hal-hal klise mengenai bagaimana nantinya aku hidup untuk mengabdi dan melayani masyarakat sudah aku coba agungkan sejak awal, sekedar formalitas.

Tapi untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta.

Sore ini saat aku menerjang hujan lebat di atas motor dengan kecepatan 50 km/jam di jalanan sragen-karanganyar, aku merasa jatuh cinta pada profesi ini kelak. Aku baru saja selesai follow up pasien sirkumsisi untuk membuka perban sehabis sirkumsisi yang dilakukan tiga hari yang lalu.
Masih ingat kata pepatah bahwa "Cinta itu butuh pengorbanan?" Mungkin itu terjadi sore ini. Ketika aku yang mulai turun kesadarannya, tanpa sadar aku sudah berusaha berkorban untuk datang melakukan follow up, membantu teman-teman yang lain. Mungkin sepele, tapi bukan berarti cinta tidak bisa hadir karena hal yang sepele bukan?

Aku mulai mengingat kenangan-kenangan setahun terakhir bertemu langsung dengan pasien saat mendampingi mbak mas koas. Aku masih ingat bagaimana aku keluar dari zona nyamanku, mengiyakan suatu tantangan menjadi penanggung jawab suatu klinik di bawah pesantren di daerah colomadu. Untuk pertama kalinya aku mengendarai motor, sejauh itu. Mungkin untuk beberapa orang yang sudah biasa naik motor hingga ratusan kilometer, itu hal yang biasa. Tapi aku berusaha membuktikan kepada Ayahku bahwa aku harus bertanggungjawab pada apa yang sudah diamanahkan padaku. Bahwa aku baik-baik saja dengan semua keputusan yang aku ambil. Mungkin ini terkesan memberontak tapi aku sudah jatuh cinta pada klinik ini, mau bagaimana?

Aku suka sekali suasana ketika sholat maghrib berjamaah, ikut mengamini "Allohumma ajirna minannar" doa yang sama yang aku panjatkan setiap maghrib dan subuh. Aku merasa pulang, merasa di tengah-tengah keluarga. Aku belajar banyak tentang dermatologi, penyakit yang berhubungan gastrointestinal sekalipun. Aku jatuh cinta.

Teringat bagaimana hari pertama menjadi asisten dua sirkumsisi, aku melihat bagaimana si operator sungguh telaten melakukan pembersihan di daerah organ genital adik yang akan disirkumsisi. Di lain kesempatan aku melihat ketenangan yang berusaha ditampakkan oleh senior-seniorku yang lain ketika terjadi resiko medis. Aku kagum untuk semua yang mereka kerjakan yang nantinya pun harus aku sanggupi. Aku jatuh cinta.

Masih dalam sirkumsisi, sungguh suatu faktor yang mempengaruhi lancarnya proses sirkumsisi adalah ketika menenangkan adik laki-laki tersebut. Itu seni, kata semua orang yang sudah melakukan sirkumsisi. Ketika mereka menangis, menjerit ketakutan, hingga ingin menyudahi saja. Aku ingat bagimana seorang adik yang begitu histeris berteriak ketika jarum jahit mulai ditusukkan. Katanya "Mbak, kayak digigit harimau" kami hanya tertawa, berusaha mencairkan suasana. Paling tidak si adik tadi sudah berkurang ketegangannya. Aku berusaha memahami setiap karakter anak kecil dan nantinya orang-orang lain, dan aku jatuh cinta.

Aku selalu berdoa karena aku tau hanya Allah lah yang bisa membantuku. Membantuku untuk meyakinkanku bahwa semua akan lancar, sesuai prosedur yang ada. Aku tau semua keajaiban itu hadir ketika kita memintanya secara terus menerus dan sungguh-sungguh. Kesungguhan itu membuatku jatuh cinta.

Sehari sebelum baksos terakhir ini, aku baru tidur jam dua pagi bersama teman-teman yang lain, melipat kasa-kasa kecil untuk digunakan saat baksos. Saat baksos pun aku tidur jam satu pagi untuk mereview materi khitan dan jahit menjahitnya sebelum baksos besok di mulai. Aku pun kembali bangun jam tiga pagi untuk mendoakan semua kegiatan di pagi hari nya agar lancar. Semua pengorbanan ini tentu hal yang biasa, yang harus dilakukan demi kelancaran suatu acara. Tapi, aku mulai menemukan diriku yang mau bersusah payah untuk sekedar acara sosial, untuk kepentingan orang lain. Mungkin aku jatuh cinta.

Aku bukan seseorang yang ahli dalam mengungkapkan perasaan atau bahkan menulis puisi yang indah. Tapi, sore ini, di tengah hujan yang begitu deras, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta pada profesi ini. Bagaimana semua pengorbanan ini nantinya, bagaimana semua ilmu ini nantinya adalah untuk kepentingan orang lain. Aku selalu ikut tersenyum lega ketika adik-adik kecil selesai melakukan khitan dengan senyum malu-malu yang dipaksakan atau karena mereka menghapus air mata mereka. Kemudian, sekedar kata terima kasih atau matur nuwun dari para lansia ketika selesai berobat. Tidak lupa mereka pun mendoakan untuk kebaikanku kelak. Mungkin ini hal yang sederhana, tapi semua pengorbanan yang baru aku sadari ini ternyata membuatku jatuh cinta karena Allah.